Jumat, 26 Oktober 2012

Pengaruh Peningkatan Jumlah Pengguna Internet Pada Transformasi Media Cetak

 Oleh Hatta Harris Rahman (@hattahr)
 
Pertumbuhan teknologi Internet di Indonesia sangat berpengaruh terhadap meledaknya para pengguna Internet di Indonesia.  Berdasarkan data yang dilansir oleh internetworldstats.com pertumbuhan Internet di Indonesia mengalami ledakan pengguna sampai akhir 2011 sebesar 55 juta pengguna dari 2 juta pengguna pada tahun 2000. Fenomena ini diperkirakan akan terus berlanjut dikarenakan penetrasi pengguna masih berkisar di angka 25.4% dari total jumlah penduduk Indonesia yang merupakan Negara terpadat ke 4 dunia dengan populasi sekitar 245 juta jiwa. 

Namun pertumbuhan internet ternyata tidak berdampak bagus pada semua sektor bisnis. Hal ini dirasakan benar oleh industry media cetak yang menerbitkan Koran, tabloid atau majalah. Alih-alih ingin “melestarikan” produknya mereka malah harus menerima kenyataan bahwa oplah mereka malah cenderung turun setia tahun. Fenomena ini sudah lebih dulu dirasakan oleh media cetak luar  negeri di Amerika. Kebanyakan dari mereka sudah mendiversifikasikan produk mereka dalam media online selain mempertahankan media cetaknya. Jika masyarakat (citizen) saat ini menjadi kajian demografi maka di masa depan demografi diyakini juga akan melibatkan terminologi netizen sebagai objeknya.

Netizen adalah penduduk di dunia virtual, yang layaknya penduduk di dunia physical, punya identitas kependudukan sipil (avatar, username), punya rumah (homepage), punya kotak pos untuk surat menyurat (alamat e-mail), punya telepon (VoIP: Voice over Internet Protocol ), bisa bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain (pakai browser, apakah itu Firefox, Internet Explorer, Opera, dan lain sebagainya).

Analisa tentang data pengguna Internet di Indonesia sangat penting karena berkaitan dengan perubahan perilaku dan gaya hidup masyarakat. Bagi bisnis tentu saja mereka harus melihat bagaimana sebuah lingkungan beradaptasi terhadap kemajuan teknologi. Tengoklah bagaimana para perusahaan mulai mengurangi frekuensi iklan atau marketingnya di media cetak dan melirik media online sebagai mediumnya. Digitalisasi atau elektronisasi diyakini akan menjadi sebuah tren dimana Internet menjadi pemicu utama.

Intuit (2007) mengemukakan bahwa masyarakat dalam suatu negara akan mengalami tiga fase dalam transformasi atau perubahan, yang diawali dengan transformasi sosial yang terjadi pada kurun waktu 1960 sampai dengan 1980-an, kemudian dilanjutkan dengan transformasi teknologi yang terjadi pada kurun waktu 1980 sampai dengan 2000-an dan pada akhirnya akan melakukan transformasi ekonomi yang akan terjadi pada rentang waktu 2000 dan seterusnya. (yudianto.wordpress.com).

Internet yang pada awalnya dibangun dan dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat untuk memfasilitasi hubungan antara professor di universitas dengan ilmuwan di seluruh dunia saat ini menjelma menjadi sebuah kebutuhan bagi siapa saja di seluruh dunia yang “haus” akan akses terhadap informasi apa saja. Dalam tahap ini internet dapat mentransformasikan nilai-nilai yang berkembang dalam suatu lingkungan dari politik, sosial, budaya bahkan ekonomi dan bisnis.

Internet (kependekan dari interconnection-networking) secara harfiah ialah sistem global dari seluruh jaringan komputer yang saling terhubung menggunakan standar Internet Protocol Suite (TCP/IP) untuk melayani miliaran pengguna di seluruh dunia. Manakala Internet (huruf 'I' besar) ialah sistem komputer umum, yang berhubung secara global dan menggunakan TCP/IP sebagai protokol pertukaran paket (packet switching communication protocol). Rangkaian internet yang terbesar dinamakan Internet (Wikipedia).

Dari sekitar 7 milyar penduduk dunia hanya 2,2 milyar orang yang bisa mengakses internet atau jika dalam persentase berkisar di angka 32.7%. Dari rentang waktu 11 tahun terjadi peningkatan pengguna internet sebesar 528,1% yang dimana Asia memiliki angka rata-rata di atas pertumbuhan dunia sebesar 789.6% dan sedikitnya 44.8% pengakses internet berasal dari Asia. Populasi Asia yang lebih besar dibandingkan gabungan benua-benua lain ternyata tidak berbanding lurus dengan jumlah pengguna internetnya. Asia menyumbang kurang lebih 56% populasi dunia atau 3,8 milyar orang di saat pengguna internetnya hanya sekitar 44.8%.

Republik Indonesia disingkat RI atau Indonesia adalah negara di Asia Tenggara, terletak di garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Karena letaknya yang berada di antara dua benua, dan dua samudra, ia disebut juga sebagai Nusantara (Kepulauan Antara). Terdiri dari 17.508 pulau, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia menempati ranking 4 dalam jumlah pengguna internet terbanyak di kawasan Asia (5.4%) setelah China (50.5%), India (11.9%) dan Jepang (10%). Satu hal yang bisa disimpulkan dari pertumbuhan pengguna internet ternyata tidak bersifat elastis atau inelastic terhadap kondisi makroekonomi suatu Negara karena faktanya walaupun beberapa Negara ditimpa krisis ekonomi tetapi tetap saja laju angka pengguna internet menunjukan tren yang positif.

Bersumber dari United Nations Department of Economic and Social Affairs, peningkatan pendapatan per kapita juga berbanding lurus dengan peningkatan jumlah pengguna internet di Indonesia dimulai dari awal milenia baru saat pendapatan per kapita masyarakat sekitar $570 sampai saat mencapai $3.000.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI mencatat pengguna internet di Indonesia 64 persen didominasi anak muda usia 15-19 tahun. Kebanyakan dari mereka banyak mengakses Sosial media sehingga tidak heran jumlah pemilik akun sosial media dari Indonesia memiliki angka yang sangat besar.

Penyebaran yang tidak merata dalam jumlah pengguna internet berbanding lurus dengan tidak meratanya persebaran penduduk di tiap wilayah Indonesia. Distribusi peningkatan infrastruktur dirasakan hampir di semua lini pembangunan tidak terkecuali infrastruktur jaringan internet.

Meningkatnya jumlah pengguna dikarenakan semakin mudahnya masyarakat untuk mengakses internet yang semakin mudah dengan ponsel atau Tablet PC. Hasil penelitian terhadap urban netizen di Indonesia oleh MarkPlus Insight menemukan penetrasi penggunaan internet di kota urban Indonesia sudah berada di kisaran 40-45 persen. Studi ini dilakukan pada bulan Agustus – September 2011 di 11 kota besar antara lain Jakarta, Bodetabek, Surabaya, Bandung, Semarang, Medan, Makassar, Denpasar, Pekanbaru, Palembang, dan Banjarmasin. Angka pertumbuhan pengguna Internet di Indonesia masih didominasi oleh anak muda dari kelompok umur 15-30 tahun.

Riset Netizen 2011  ini juga  memberikan indikasi  bahwa  rata-rata pengguna Internet di Indonesia mengakses melalui smartphone dan notebook. Penetrasi mobile Internet di Indonesia saat ini sebesar 57 persen atau sebanyak 29 juta mobile Internet user di Indonesia. Meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya sebanyak 16 juta mobile Internet user.( tekno.kompas.com)

Dalam perspektif bisnis media cetak tradisional, keuntungan didapat dari banyaknya oplah yang terjual dalam satu kali terbit dikalikan dengan keuntungan dari tiap eksemplar. Maka dari itu orientasinya adalah bagaimana dapat mencetak Koran atau majalah dalam volume yang besar sembari meningkatkan penjualan. Hambatan yang sering terjadi adalah keterbatasan redaksi untuk menampilkan semua hasil karya jurnalis dalam satu format media karena jumlah halaman yang relative sudah terstandarisasi dan akan sulit untuk menambahkan halaman karena akan meningkatkan jumlah biaya yang bersumber dari biaya kertas dan ongkos cetak.

Tuntutan akan akses informasi yang cepat juga menjadi titik kelemahan yang dimiliki media cetak karena berita seringkali tidak disampaikan secara “realtime” sehingga wajar saja media massa elektronik seperti Televisi dan radio makin menunjukan tajinya sebagai acuan informasi selain hiburan dan pendidikan.

Budaya membaca di Indonesia menjadi salah satu hambatan yang jelas bagaimana perilaku masyarakat Indonesia dalam menyikapi suatu informasi dan berita. Menurut laporan dari Badan Pusat Statistik berkenaan dengan perilaku sosial budaya di dalam masyarakat diketahui persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas yang membaca surat kabar atau majalah sebesar 18.94% pada tahun 2009 atau turun dari angka sebelumnya sebesar 23.46% pada tahun 2006. Angka ini merupakan informasi yang tidak baik bagi industry media cetak.

Masifnya perkembangan jumlah pengguna internet di tanah air harusnya disadari sebagai sebuah peluang akan hadirnya inovasi baru karena nyatanya banyak media cetak di Indonesia sudah mengkonvergesikan produknya ke media online  dan electronic paper (ePaper/eMagazine) sehingga masalah perihal kecepatan informasi atau meningkatnya biaya dapat diminimalisir. Pandangan yang mengharuskan untuk menjual media cetak sebanyak-banyaknya sudah bisa dirubah karena pendapatan akan meningkat dari iklan yang tayang di situs resmi dan ePaper. Jumlah pengunduh, pengakses dan pembaca akan menjadi indicator yang relevan bagi perusahaan untuk menawarkan jasa kepada pihak-pihak yang ingin menggunakan jasa iklan. Pasar yang besar pun tercipta karena tidak ada batasan geogfrafi bagi seseorang untuk mengakses situs perusahaan karena bisa saja pengunjung berasal dari luar negeri.

Meledaknya angka pengguna internet di Indonesia diperkirakan tidak akan berhenti dikarenakan penetrasi yang masih rendah dibandingkan Negara lainnya. Laju pertumbuhan pengguna mungkin akan sedikit terhambat dengan ketidakmampuan pemerintah untuk membangun infrastruktur internet secara cepat demi mengejar penetrasi pengguna internet.

Kekhawatiran akan tewasnya media cetak jangan dijadikan alasan untuk perusahaan tidak bertransformasi. Pasalnya, media cetak tidak akan bisa menghilang melainkan akan melebur dengan media online. Berangkat dari anngapan inilah perusahaan harus membuat sistem pendukung untuk melancarkan performa bisnis dalam ranah virtual ini. Penyediaan aplikasi yang praktis dan kolaborasi dengan media sosial lain dianjurkan mengingat jumlah anggota yang terdaftar di media ini relative besar dan terus tumbuh.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh penulis, tercatat 43,523,740 pengguna Facebook berasal dari Indonesia, 872,461 pengguna linkedin, 5,600,000 pengguna twitter dan 4,829,516 member Kaskus. Kontribusi dari media sosial sangat dibutuhkan karena merupakan “civil Society” dan sebagai sarana ekspresi diri.

Distribusi penggunaan internet yang saat ini masih didominasi oleh para remaja cenderung akan bergeser dan relative seimbang dikarenakan umur mereka yang akan bertambah dan berubahnya gaya dan perilaku dari tiap kelompok umur pengguna. Antisipasi ini sudah mulai dilakukan oleh perusahaan media seperti kompas, detik, inilah, okezone dan media Indonesia mencoba memfasilitasi dengan rubrik jurnalisme masyarakat (citizen Jurnalism) bagi siapa saja yang ingin menyalurkan ide mereka dan biasanya para penulis disana sering mereferenesikan berita yang berasal dari tempat mereka sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan jumlah pengunjung situs online perusahaan.

Di era globalisasi dimana terjadi intensitas perpindahan penduduk yang lebih besar maka data demografi pengguna internet akan semakin kabur karena isu-isu akan bersifat internasional. Sisi positif yang bisa diambil adalah data demografi yang dapat digunakan tidak hanya berasal dari Indonesia tetapi bisa bersifat kawasan karena distribusi penduduk Indonesia yang sudah menyebar ke luar. Untuk saat ini transformasi media cetak ke media online dirasakan sudah cukup setidaknya untuk 5 hingga 10 tahun ke depan.

Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. Indikator Sosial Budaya Tahun 2003, 2006 dan 2009,  (http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=27&notab=36) diakses pada tanggal 17 Oktober 2012.
http://id.wikipedia.org/wiki/Internet#Internet_pada_saat_ini. Diakses pada tanggal 17 Oktober 2012.
http://nasional.kompas.com/read/2010/10/10/15552881/Netizen.Kekuatan.Baru.di.Dunia.New.Wave (2010). Diakses pada tanggal 17 Oktober 2012.
http://padmanegara.com/tag/data-digital-2012/ (2012). Diakses pada tanggal 17 Oktober 2012.
http://tekno.kompas.com/read/2011/10/28/16534635/Naik.13.Juta.Pengguna.Internet.Indonesia.55.Juta.Orang (2011). Diakses pada tanggal 17 Oktober 2012.
Internet World Stats: Usage and Population Statistics. http://internetworldstats.com/. Diakses pada tanggal 17 Oktober 2012.
Kadir, Abdul (2003), “Pengenalan Sistem Informasi”. Andi, Yogyakarta.
Portal Nasional Republik Indonesia. http://www.indonesia.go.id/in/sekilas-indonesia/geografi-indonesia.html. Diakses pada tanggal 17 Oktober 2012.6886&partner=ymail&sig=GT2qA7KDx.aL0um7Kqve3A--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar